Senin, 13 September 2021

3.1.a.9. Koneksi Antarmateri - Hendri Nugroho

Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EBISuwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EBI: Ki Hajar Dewantara, beberapa menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro; 2 Mei 1889 – 26 April 1959; selanjutnya disingkat sebagai "Soewardi" atau "KHD") adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. ("di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan"). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa.

Kepemimpinan pembelajaran atau kepemimpinan instruksional adalah kepemimpinan yang memfokuskan/menekankan pada pembelajaran yang komponen-komponennya meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, asesmen (penilaian hasil belajar), penilaian serta pengembangan guru, layanan prima dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas belajar di sekolah. 

Tujuan kepemimpinan pembelajaran adalah untuk memfasilitasi pembelajaran agar siswanya meningkat prestasi belajarnya, meningkat kepuasan belajarnya, meningkat motivasi belajarnya, meningkat keingintahuannya, kreativitasnya, inovasinya, jiwa kewirausahaannya, dan meningkat kesadarannya untuk belajar secara terus-menerus sepanjang hayat karena ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni berkembang dengan pesat.

Pengambilan keputusan merupakan proses pemecahan masalah dengan menentukan pilihan dari beberapa alternatif untuk menetapkan suatu tindakan dimasa depan. Pengambilan keputusan merupakan sikap yang hati-hati dalam bertindak untuk menentukan sebuah pilihan dari beberapa alternatif.

Dalam pengambilan keputusan yang dilakukan guru hendaknya dapat menuntun dan memberikan ruang bagi murid untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan pengetahuan baru yang didapatnya. Dengan begitu murid dapat belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan perspektif dirinya. Menjadi murid yang merdeka, kreatif, inovatif, pribadi yang matang serta penuh pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan yang dapat menentukan bagi masa depan mereka sendiri. Kemampuan-kemampuan tersebut dapat dipupuk dan dikembangkan melalui budaya positif sekolah.

Dalam pandangan Ki Hajar Dewantara dijelaskan bahwa guru adalah sebagai among, sebagai penuntun bagi murid dengan segala kekuatan kodrat yang dimilikinya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Penuntun dalam hal ini dapat diartikan pula sebagai pemimpin pembelajaran. Sebagai pemimpin pembelajaran seorang guru harus memiliki nilai-nilai kemandirian, reflektif, kolaboratif dan berpihak pada murid dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya. Peran dan nilai tersebut akan berpengaruh pada paradigma dan prinsip pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Tugas guru dalam memelihara, menuntun dan menjaga peserta didik agar bertumbuh secara o[timal adalah proyek transformasi yang harus terus dilakukan dan digerakkan untuk terwujudnya Indonesia maju.

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai–nilai yang tertanam dalam diri kita tentunya akan berpengaruh kepada prinsip–prinsip dalam mengambil suatu keputusan.  Karena dalam mengambil keputusan ada prinsip berbasis peraturan.

Apabila dalam diri kita sudah tertanam nila–nilai kepatuhan ataupun nilai kejujuran maka kita tidak akan pernah mau untuk melanggar peraturan .

Di dalam mengambil keputusan kita akan berpikir dua kali untuk melanggar peraturan tersebut. Apabila dalam diri kita lebih kuat nilai peduli terhadap orang lain maka kita condong untuk memakai prinsip berpikir berbasis rasa peduli.

 

Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Apa yang dimaksud dengan coaching? Coaching adalah kegiatan atau metode yang berguna untuk mengembangkan keterampilan dan kemampuan, dan meningkatkan kinerja sumber daya manusia (SDM) untuk menemukan jawaban atas berbagai tantangan yang dihadapi oleh manusia. Jadi, coaching yang kita maksud disini bukanlah cara untuk mengajari apalagi memberikan instruksi. Maka coaching bukanlah training yang umumnya berbentuk kelas, coaching bukan mentoring, bukan pula terapi atau konseling. Coaching lebih menjurus kepada memfasilitasi melalui bertanya, memberikan feedback dan berperan sebagai ahli.

Coaching biasanya melatih seseorang untuk mengelola cara kerja otaknya sehingga mampu menghasilkan performa yang lebih baik, mampu menjadi pemimpin bagi diri sendiri, mampu menjadi manusia pembelajar, mampu menyesuaikan dengan kondisi sekarang untuk terus berkembang dan tumbuh, serta mampu mengaktualisasikan ide dan pemikirannya sehingga orang tersebut bisa mengandalkan diri sendiri untuk menghasilkan keputusan dan tindakan yang “lebih” baik lagi.

 

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Nilai-nilai  atau  prinsip-prinsip  yang  mendasari  pemikiran  seseorang  dalam mengambil suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika, sebagai berikut.

1. Melakukan, demi kebaikan orang banyak.

2. Menjunjung tinggi prinsip-prinsip/nilai-nilai dalam diri.

3. Melakukan apa yang diharapkan orang lain akan lakukan kepada diri kita.

Ada empat nilai yang berkembang dalam masyarakat. Yang harus diperhatikan oleh Guru yaitu nilai moral, nilai sosial, nilai undang-undang dan nilai agama. Nilai moral adalah segala nilai yang berhubungan dengan konsep baik dan buruk. Nilai moral sering juga muncul dalam nilai sosial.

Nilai moral merupakan nilai yang harus dimiliki seorang guru. Banyak kasus terjadi karena rendahnya nilai moral yang dimiliki oleh seorang guru, mengakibatkan guru tersebut tidak terkontrol perilakunya, Selain itu, guru berani mengambil tindakan-tindakan diluar kontrol emosionalnya.

Seorang guru tidak boleh meninggalkan nilai sosial, nilai moral dan nilai spiritual. Guru mempunyai hak untuk menentukan nilai mana yang akan dipakai atau ditinggalkan, tetapi guru harus mengenal dirinya sendiri, mengenal nilai yang harus dimilikinya dan mengikuti nilai itu dengan jujur.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa guru menjadi sumber nilai moral. Guru dan umumnya seluruh manusia sendiri membuat tingkah lakunya menjadi baik atau buruk dipandang dari sudut moral.

 

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Membuat keputusan apalagi untuk hal yang besar bukanlah perkara mudah. Terlebih jika keputusan yang dibuat nantinya akan berdampak pada orang banyak.

Agar keputusan yang dibuat semakin mantap, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

1.     Buatlah keputusan saat sedang fokus dan tidak terburu-buru

2.     Mengumpulkan fakta sebanyak-banyaknya

3.     Tetap terbuka untuk semua kemungkinan yang ada

4.     Buat dampak positif dan negatif yang akan diterima

5.     Coba ubah pandangan menjadi orang lain

Terdapat tiga prinsip yang seringkali membantu dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang harus dihadapi pada dunia saat ini. (Kidder, 2009, hal 144). Ketiga prinsip tersebut adalah:

1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

 

Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based  Thinking) ditentukan dengan konsekuensi atau hasil dari suatu tindakan.

Berpikir   Berbasis   Peraturan   (Rule-Based   Thinking)   menentukan   keputusan   berdasarkan peraturan yang telah dibuat

Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) prinsipnya “Lakukan kepada orang lain seperti yang Anda ingin mereka lakukan kepada Anda." Dengan kepedulian terhadap sesama kita akan menjadi lebih peka dan bersimpati.  Penderitaan  yang terjadi pada orang lain bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk bersimpati. Peduli sesama bermakna responsif dan peka pada kondisi di sekitar kita. Kepekaan itu selain ditunjukkan dengan perasaan mengasihi dan menyayangi juga diperlihatkan dengan tindakan-tindakan positif seperti membantu dengan ringan tangan apa bila orang di sekitar membutuhkan  bantuan.  Pada momen ini, kita dapat memberikan kontribusi yang besar bagi orang lain. Jadi, keberadaan kita bermanfaat bagi orang lain yang berada di sekitar kita. Jadi, rasa peduli seharusnya dapat dilakukan di manapun dan kapapun. Karena sebaik–baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain.

 

Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Kesulitan-kesulitan yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus dilema etika adalah yang berkaitan dengan kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.

Pada jaman perang, tentara yang tertangkap kadang harus memilih antara mengatakan yang sebenarnya kepada pihak musuh atau tetap setia kepada teman tentara yang lain. Hampir dari kita semua pernah mengalami harus memilih antara mengatakan yang sebenarnya atau melindungi teman (saudara) yang dalam masalah. Ini adalah salah satu contoh dari pilihan atas kebenaran melawan kesetiaan.

 

Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Sebagai seorang pendidik, tentu telah melakukan banyak pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika. Pengambilan keputusan ini harus berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, kepentingan murid dan rasa tanggung jawab sehingga keputusannya dapat mengembangkan segala kodrat yang melekat seperti minat, bakat serta potensi yang dimiliknya yang bertujuan well being (kebahagiaan dan kesejahteraan) muridnya dan terciptanya merdeka belajar.  Nilai-nilai baik yang dianut seorang pendidik akan menghasilkan keputusan yang positif terhadap kepentingan murid dan juga pembelajaran, sekolah dan secara umum berimbas pada kualitas pendidikan yang dihasilkan.

 

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Setiap keputusan yang diambil seorang pemimpin pembelajaran akan memberikan dampak kepada murid-murid baik secara langsung maupun tidak langsung. Keputusan yang salah tentunya akan berakibat buruk bagi murid. Sebaliknya, keputusan yang tepat akan memberikan dampak baik bagi murid. Keputusan yang diambil tidak hanya berlaku untuk jangka pendek saja, tetapi juga untuk jangka Panjang, bahkan di kehidupan atau masa depan murid-murid. Jika keputusan yang diambil berkaitan secara langsung dengan murid, keputusan itu kemungkinan akan terus diingat dan bahkan dijadikan contoh oleh murid. Apalagi jika keputusan tersebut berperan penting atau merupakan keputusan besar berkaitan dengan hidup seorang murid.

 

Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Berbicara tentang modul Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran adalah materi yang tidak kalah pentingnya dari modul yang lain. Seorang guru harus memiliki jiwa kepemimpinan, terutama didalam kelas, yang terbiasa menghadapi siswa yang beragam karakter. Sebagai Seorang pemimpim pembelajaran dalam mengkritisi suatu pengambilan keputusan atau membuat suatu keputusan yang memberikan solusi terbaik untuk kemajuan perorangan atau sekelompok orang harus mampu memahami dan menganalisa aspek-aspek apa saja yang perlu diperhatikan sebelum dan sesudah pengambilan suatu keputusan dibuat.

Kaitannya dengan modul sebelumnya adalah kita dapat mengetahui filosofi Ki Hadjar Dewantara dimana adanya kodrat alam dan kodrat zaman.

Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama.  Kita juga bisa melakukan kegiatan-kegiatan pembiasaan di sekolah untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti/akhlak mulia kepada anak.

Melalui filosofi KHD, seorang Guru dapat belajar memetakan kebutuhan belajar murid sehingga dapat  memenuhi kebutuhan belajarnya.  Lebih dari itu, seorang pemimpin pembelajaran dapat menyelami karakter peserta didik dan menjadi coach yang baik untuk membimbing peserta didik menemukan permasalahan yang dihadapi khususnya di lingkungan sekolah, menjadi pengambil keputusan yang terbaik sebagai pemimpin pembelajaran.

 

 

Kelas 9C