Image by Cool Text: Logo and Button Generator - Create Your Own Logo
Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EBI: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar
Dewantara, EBI: Ki Hajar Dewantara, beberapa menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar
Dewantoro; 2 Mei 1889 – 26 April 1959; selanjutnya disingkat sebagai
"Soewardi" atau "KHD") adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan
kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti
halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.
Semboyan dalam sistem
pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan
Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri
handayani. ("di depan memberi contoh, di tengah
memberi semangat, di belakang memberi dorongan"). Semboyan ini masih tetap
dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah
Perguruan Tamansiswa.
Kepemimpinan pembelajaran atau kepemimpinan
instruksional adalah kepemimpinan yang memfokuskan/menekankan pada pembelajaran
yang komponen-komponennya meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, asesmen
(penilaian hasil belajar), penilaian serta pengembangan guru, layanan prima
dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas belajar di sekolah.
Tujuan kepemimpinan pembelajaran adalah untuk
memfasilitasi pembelajaran agar siswanya meningkat prestasi belajarnya,
meningkat kepuasan belajarnya, meningkat motivasi belajarnya, meningkat
keingintahuannya, kreativitasnya, inovasinya, jiwa kewirausahaannya, dan
meningkat kesadarannya untuk belajar secara terus-menerus sepanjang hayat
karena ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni berkembang dengan pesat.
Pengambilan keputusan merupakan proses pemecahan masalah dengan
menentukan pilihan dari beberapa alternatif untuk menetapkan suatu tindakan
dimasa depan. Pengambilan keputusan merupakan sikap yang hati-hati dalam
bertindak untuk menentukan sebuah pilihan dari beberapa alternatif.
Dalam
pengambilan keputusan yang dilakukan guru hendaknya dapat menuntun dan
memberikan ruang bagi murid untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan
pengetahuan baru yang didapatnya. Dengan begitu murid dapat belajar mengambil
keputusan yang sesuai dengan perspektif dirinya. Menjadi murid yang merdeka,
kreatif, inovatif, pribadi yang matang serta penuh pertimbangan dan cermat
dalam mengambil keputusan yang dapat menentukan bagi masa depan mereka sendiri.
Kemampuan-kemampuan tersebut dapat dipupuk dan dikembangkan melalui budaya
positif sekolah.
Dalam
pandangan Ki Hajar Dewantara dijelaskan bahwa guru adalah sebagai among, sebagai
penuntun bagi murid dengan segala kekuatan kodrat yang dimilikinya guna
mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Penuntun dalam hal ini
dapat diartikan pula sebagai pemimpin pembelajaran. Sebagai pemimpin
pembelajaran seorang guru harus memiliki nilai-nilai kemandirian, reflektif,
kolaboratif dan berpihak pada murid dalam menjalankan tugas pokok dan
fungsinya. Peran dan nilai tersebut akan berpengaruh pada paradigma dan prinsip
pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Tugas guru dalam
memelihara, menuntun dan menjaga peserta didik agar bertumbuh secara o[timal
adalah proyek transformasi yang harus terus dilakukan dan digerakkan untuk
terwujudnya Indonesia maju.
Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh
kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Nilai–nilai
yang tertanam dalam diri kita tentunya akan berpengaruh kepada prinsip–prinsip
dalam mengambil suatu keputusan. Karena
dalam mengambil keputusan ada prinsip berbasis peraturan.
Apabila
dalam diri kita sudah tertanam nila–nilai kepatuhan ataupun nilai kejujuran
maka kita tidak akan pernah mau untuk melanggar peraturan .
Di
dalam mengambil keputusan kita akan berpikir dua kali untuk melanggar peraturan
tersebut. Apabila dalam diri kita lebih kuat nilai peduli terhadap orang lain
maka kita condong untuk memakai prinsip berpikir berbasis rasa peduli.
Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi
pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang
diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran
kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil.
Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada
pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut.
Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada
modul 2 sebelumnya.
Apa
yang dimaksud dengan coaching? Coaching adalah kegiatan atau metode yang
berguna untuk mengembangkan keterampilan dan kemampuan, dan meningkatkan
kinerja sumber daya manusia (SDM) untuk menemukan jawaban atas berbagai
tantangan yang dihadapi oleh manusia. Jadi, coaching yang kita maksud disini
bukanlah cara untuk mengajari apalagi memberikan instruksi. Maka coaching
bukanlah training yang umumnya berbentuk kelas, coaching bukan mentoring, bukan
pula terapi atau konseling. Coaching lebih menjurus kepada memfasilitasi
melalui bertanya, memberikan feedback dan berperan sebagai ahli.
Coaching
biasanya melatih seseorang untuk mengelola cara kerja otaknya sehingga mampu
menghasilkan performa yang lebih baik, mampu menjadi pemimpin bagi diri
sendiri, mampu menjadi manusia pembelajar, mampu menyesuaikan dengan kondisi
sekarang untuk terus berkembang dan tumbuh, serta mampu mengaktualisasikan ide dan
pemikirannya sehingga orang tersebut bisa mengandalkan diri sendiri untuk
menghasilkan keputusan dan tindakan yang “lebih” baik lagi.
Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau
etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.
Nilai-nilai atau
prinsip-prinsip yang mendasari
pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang
mengandung unsur dilema etika, sebagai berikut.
1.
Melakukan, demi kebaikan orang banyak.
2.
Menjunjung tinggi prinsip-prinsip/nilai-nilai dalam diri.
3.
Melakukan apa yang diharapkan orang lain akan lakukan kepada diri kita.
Ada
empat nilai yang berkembang dalam masyarakat. Yang harus diperhatikan oleh Guru
yaitu nilai moral, nilai sosial, nilai undang-undang dan nilai agama. Nilai
moral adalah segala nilai yang berhubungan dengan konsep baik dan buruk. Nilai
moral sering juga muncul dalam nilai sosial.
Nilai
moral merupakan nilai yang harus dimiliki seorang guru. Banyak kasus terjadi
karena rendahnya nilai moral yang dimiliki oleh seorang guru, mengakibatkan
guru tersebut tidak terkontrol perilakunya, Selain itu, guru berani mengambil
tindakan-tindakan diluar kontrol emosionalnya.
Seorang
guru tidak boleh meninggalkan nilai sosial, nilai moral dan nilai spiritual.
Guru mempunyai hak untuk menentukan nilai mana yang akan dipakai atau
ditinggalkan, tetapi guru harus mengenal dirinya sendiri, mengenal nilai yang
harus dimilikinya dan mengikuti nilai itu dengan jujur.
Oleh
karena itu, dapat dikatakan bahwa guru menjadi sumber nilai moral. Guru dan
umumnya seluruh manusia sendiri membuat tingkah lakunya menjadi baik atau buruk
dipandang dari sudut moral.
Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada
terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Membuat
keputusan apalagi untuk hal yang besar bukanlah perkara mudah. Terlebih jika
keputusan yang dibuat nantinya akan berdampak pada orang banyak.
Agar
keputusan yang dibuat semakin mantap, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan,
yaitu:
1. Buatlah keputusan saat sedang fokus
dan tidak terburu-buru
2. Mengumpulkan fakta
sebanyak-banyaknya
3. Tetap terbuka untuk semua
kemungkinan yang ada
4. Buat dampak positif dan negatif
yang akan diterima
5. Coba ubah pandangan menjadi orang
lain
Terdapat
tiga prinsip yang seringkali membantu dalam menghadapi pilihan-pilihan yang
penuh tantangan, yang harus dihadapi pada dunia saat ini. (Kidder, 2009, hal
144). Ketiga prinsip tersebut adalah:
1.
Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
2.
Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
3.
Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Berpikir
Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based
Thinking) ditentukan dengan konsekuensi atau hasil dari suatu tindakan.
Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) menentukan keputusan berdasarkan peraturan yang telah dibuat
Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) prinsipnya “Lakukan kepada orang lain seperti yang Anda ingin mereka lakukan kepada Anda." Dengan kepedulian terhadap sesama kita akan menjadi lebih peka dan bersimpati. Penderitaan yang terjadi pada orang lain bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk bersimpati. Peduli sesama bermakna responsif dan peka pada kondisi di sekitar kita. Kepekaan itu selain ditunjukkan dengan perasaan mengasihi dan menyayangi juga diperlihatkan dengan tindakan-tindakan positif seperti membantu dengan ringan tangan apa bila orang di sekitar membutuhkan bantuan. Pada momen ini, kita dapat memberikan kontribusi yang besar bagi orang lain. Jadi, keberadaan kita bermanfaat bagi orang lain yang berada di sekitar kita. Jadi, rasa peduli seharusnya dapat dilakukan di manapun dan kapapun. Karena sebaik–baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain.
Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang
sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus
dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di
lingkungan Anda?
Kesulitan-kesulitan
yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus dilema
etika adalah yang berkaitan dengan kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
Kejujuran
dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi
dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan
berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan
jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai
kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat
sebelumnya.
Pada
jaman perang, tentara yang tertangkap kadang harus memilih antara mengatakan
yang sebenarnya kepada pihak musuh atau tetap setia kepada teman tentara yang
lain. Hampir dari kita semua pernah mengalami harus memilih antara mengatakan
yang sebenarnya atau melindungi teman (saudara) yang dalam masalah. Ini adalah
salah satu contoh dari pilihan atas kebenaran melawan kesetiaan.
Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita
ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?
Sebagai
seorang pendidik, tentu telah melakukan banyak pembahasan studi kasus yang
fokus pada masalah moral atau etika. Pengambilan keputusan ini harus
berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, kepentingan murid dan rasa
tanggung jawab sehingga keputusannya dapat mengembangkan segala kodrat yang
melekat seperti minat, bakat serta potensi yang dimiliknya yang bertujuan well being
(kebahagiaan dan kesejahteraan) muridnya dan terciptanya merdeka belajar. Nilai-nilai baik yang dianut seorang pendidik
akan menghasilkan keputusan yang positif terhadap kepentingan murid dan juga
pembelajaran, sekolah dan secara umum berimbas pada kualitas pendidikan yang
dihasilkan.
Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan
dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Setiap
keputusan yang diambil seorang pemimpin pembelajaran akan memberikan dampak
kepada murid-murid baik secara langsung maupun tidak langsung. Keputusan yang
salah tentunya akan berakibat buruk bagi murid. Sebaliknya, keputusan yang
tepat akan memberikan dampak baik bagi murid. Keputusan yang diambil tidak
hanya berlaku untuk jangka pendek saja, tetapi juga untuk jangka Panjang,
bahkan di kehidupan atau masa depan murid-murid. Jika keputusan yang diambil
berkaitan secara langsung dengan murid, keputusan itu kemungkinan akan terus
diingat dan bahkan dijadikan contoh oleh murid. Apalagi jika keputusan tersebut
berperan penting atau merupakan keputusan besar berkaitan dengan hidup seorang
murid.
Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran
modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Berbicara
tentang modul Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran adalah materi
yang tidak kalah pentingnya dari modul yang lain. Seorang guru harus memiliki
jiwa kepemimpinan, terutama didalam kelas, yang terbiasa menghadapi siswa yang
beragam karakter. Sebagai Seorang pemimpim pembelajaran dalam mengkritisi suatu
pengambilan keputusan atau membuat suatu keputusan yang memberikan solusi
terbaik untuk kemajuan perorangan atau sekelompok orang harus mampu memahami dan
menganalisa aspek-aspek apa saja yang perlu diperhatikan sebelum dan sesudah
pengambilan suatu keputusan dibuat.
Kaitannya
dengan modul sebelumnya adalah kita dapat mengetahui filosofi Ki Hadjar
Dewantara dimana adanya kodrat alam dan kodrat zaman.
Kodrat
alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana anak berada,
sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama. Kita juga bisa melakukan kegiatan-kegiatan
pembiasaan di sekolah untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti/akhlak mulia
kepada anak.
Melalui
filosofi KHD, seorang Guru dapat belajar memetakan kebutuhan belajar murid sehingga
dapat memenuhi kebutuhan belajarnya. Lebih dari itu, seorang pemimpin pembelajaran
dapat menyelami karakter peserta didik dan menjadi coach yang baik untuk
membimbing peserta didik menemukan permasalahan yang dihadapi khususnya di
lingkungan sekolah, menjadi pengambil keputusan yang terbaik sebagai pemimpin
pembelajaran.
A. Latar Belakang
Tahun Ajaran baru adalah awal
yang baik dan kesempatan yang tepat untuk meneruskan dan membangun kebiasaan
baru yang belum pernah/sempat dilakukan sebagai bagian dari refleksi bersama pada
tahun ajaran sebelumya.
Budaya positif di sekolah menjadi
tempat bagi guru, murid, serta seluruh warga sekolah untuk merasakan atmosfer
positif yang membangun dan memperkuat karakter bagi sekolah tersebut agar
selaras dengan visi sekolah.
Salah
satu contoh penerapan budaya positif yang bisa dikembangkan di sekolah adalah dengan
pembuatan kesepakatan kelas oleh wali kelas, yang bertujuan untuk menumbuhkan
tanggung jawab dan kepedulian siswa di kelas. Kesepakatan kelas adalah potret yang
lebih mengedepankan peran aktif siswa sebagai subjek pendidikan, sehingga
setiap pendapat siswa perlu dihargai. Melalui kesepakatan kelas, anak-anak
sekaligus belajar tentang nilai-nilai demokrasi, serta pentingnya bertanggung
jawab terhadap kesepakatan yang mereka buat sendiri sehingga kesepakatan yang
dibuat dapat menampung aspirasi antarsiswa.
Kolaboratif antara siswa dan guru
untuk saling bertukar ide positif dan membangun sebagai dasar landasan peraturan
di kelas. Konsekuensi yang ditimbulkan
menjadi bagian kesepakatan yang harus diikuti. Apabila kesepakatan ini dijalankan, maka budaya
positif akan nampak nyata terlihat dalam diri siswa dan guru. Kesepakatan kelas
yang efektif dapat membantu dalam pembentukan budaya disiplin positif di kelas.
Hal ini juga dapat membantu proses belajar mengajar yang lebih mudah dan merdeka
belajar.
B. Deskripsi Aksi Nyata
Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyusun kesepakatan
kelas adalah dengan cara menginformasikan di Group WhatsApp (WA) kelas dengan akan
diadakannya kesepakatan kelas mengingat sekarang dalam kondisi pandemi Covid-19,
sehingga untuk proses pembuatan kesepakatan kelas dengan menggunakan media
Google Meet. Setelah peserta didik
diinformasikan dan diberi arahan mengenai tujuan dibuat kesepakatan kelas,
mereka bergabung di Google Meet dan diberi kebebasan untuk berargumentasi
menyampaikan pendapatnya akan apa yang akan menjadi kesepakatan kelas
berdasarkan prinsip kesepakatan kelas, yaitu:
a.
Melibatkan semua pihak
Kelebihan
dari kesepakatan adalah sifat kepemilikannya. Saat semua pihak terlibat,
tanggung jawab didorong dari dalam diri. Pastikan siswa/anak memahami tujuan
dibuatnya kesepakatan, yaitu panduan berperilaku baik dalam keseharian, baik di
dunia online maupun offline.
b.
Memuat nilai yang
dianggap penting
Pastikan
siswa/anak paham bahwa dunia online dan dunia offline adalah
dunia yang sama-sama memerlukan etika yang baik. Semua hal yang tidak pantas
dilakukan di dunia offline juga tidak pantas dilakukan di
dunia online.
c.
Dipahami oleh semua
pihak
Pastikan
semua pihak mendapatkan kesempatan untuk merespons dan berperan aktif dalam
pembuatan kesepakatan. Hindari pembuatan kesepakatan sekadar untuk mendapatkan
persetujuan.
d.
Singkat
Agar
mudah diingat dan efektif dalam pelaksanaannya, kesepakatan dibuat singkat.
e.
Dibuat tertulis dan
mudah diakses sewaktu-waktu
Letakkan
di tempat yang mudah dilihat, seperti di dinding kelas, di depan pintu kamar,
di folder media pada grup chat. Bantuan visual
atau berupa poster dapat memudahkan untuk mengingat dan lebih menarik untuk
dibaca.
f.
Memuat konsekuensi atas
pelanggaran
Sebelum
menentukan sebuah konsekuensi, lihat situasinya apakah pelanggaran tersebut
memerlukan konsekuensi tambahan, seperti: penarikan gawai dari siswa/anak untuk
sementara waktu. Hindari konsekuensi yang bersifat “hukuman”, misalnya:
melibatkan fisik atau tidak menjaga harga diri siswa/anak. Hukuman tidak
memberikan pengalaman belajar yang baik.
g.
Evaluasi berkala
Seiring
tahap perkembangan anak dan perubahan situasi, diperlukan evaluasi atas
kesepakatan. Karena adanya kebutuhan yang bertambah/berkurang, evaluasi atas
kesepakatan pun secara berkala mutlak dilakukan. Hal ini penting disebutkan di
awal saat membuat kesepakatan agar semua pihak dapat berperan aktif seiring
berjalannya penerapan kesepakatan.
C. Hasil Aksi Nyata
Hasil
aksi nyata yang didapat adalah dengan adanya kesepakatan kelas yang telah
disetujui oleh wali kelas dan peserta didik kelas VIII C SMP Xaverius 2 Bandar Lampung.
D. Pembelajaran yang
didapat
Pembelajaran
yang didapat dengan membuat kesepakatan kelas adalah
1. Saling menghargai saat teman
menyampaikan argumentasi
2. Saling mendukung dan
menguatkan
3. Terjalin komunikasi yang
efektif
4. Tercipta demokrasi di
kelas
5. Tercipta kesepakatan Bersama
E. Rencana Perbaikan
Rencana
perbaikan yang akan dilakukan berdasarkan situasi dan kondisi yang relevan saat
ini, sehingga kesepakatan tersebut dapat direvisi sesuai kebutuhan.
F. Dokumentasi proses dan hasil
a. Proses membuat kesepakatan kelas dengan menggunakan Google Meet
Dalam modul visi guru penggerak tentang
paradigma Inkuiri Apresiatif ini kita bisa menggali nilai-nilai positif baik
untuk menerapkan visi sekolah yang berbasis pada kekuatan, budaya positif yang
telah ada disekolah kemudian dikembangkan menjadi visi sekolah yang menuju
kepada murid merdeka.
Inkuiri Apresiatif adalah sebagai
pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis perubahan,
sebagai salah satu model manajemen perubahan dan mencoba menerapkannya melalui
tahapan dalam Inkuiri Apresiatif yang disebut dengan BAGJA (Buat
Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana, Atur Eksekusi
Berbicara tentang kekuatan dan hal
positif, paradigma Inkuiri Apresiatif juga sejalan dengan pernyataan
Ki Hajar Dewantara bahwa anak anak hidup dan tumbuh sesuai dengan kodratnya
sendiri baik kodrat alam maupun kodrat zaman.
Pendekatan paradigma Inkuiri Apresiatif sejatinya adalah menggali
potensi setiap anak sesuai dengan kodratnya masing masing. Jadi paradigma ini
bisa menjadi salah satu metode untuk mencapai visi yang sesuai dengan visi Ki
Hajar Dewantara.
Melalui pendekatan Inkuiri Apresiatif
dengan tahapan BAGJA maka peran penting guru dalam mewujudkan “murid merdeka”
yaitu :
1. Menerapkan
pembelajaran yang berpihak pada murid
2. Menggali
potensi pada diri murid baik (bakat,minat,cara belajar dan lain-lain) dan lain
lain sesuai dengan kodrat zaman (perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
zaman itu)
3. Menciptakan
suasana kelas yang menyenangkan dan bermakna
4. Menumbuhkan
motivasi intrinsik siswa
Setelah mengetahui peran kita sebagai
guru maka kita bisa mengambil langkah konkret dalam menerapkan pendekatan IA
model BAGJA ini antara lain:
1.
Memahami
kekuatan-kekuatan positif sekolah yang sudah ada
2.
Menyusun
visi sekolah sesuai dengaan pendekatan Inkuiri Apresiatif
3. Menginventarisir
kendala yang muncul dan mencari solusi secara bersama sama dan mengedepankan
musyawarah
4. Bekerja
sama dengan antar pemangku kepentingan, dan melakukan perannya masing-masing
dengan baik
Dengan mengetahui kekuatan/ potensi diri, pentingnya pemetaan,
dan komponen-komponen yang perlu ada maka kita dapat mencapai visi diri dan
visi sekolah untuk mewujudkan perubahan budaya positif.
SALAM CALON GURU PENGGERAK
A. PENDAHULUAN
Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa Pendidikan adalah tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan. Dengan maksud agar segala unsur peradaban dan kebudayaan tadi dapat tumbuh dengan sebaik-baiknya dan dapat kita teruskan kepada anak cucu kita yang akan datang. Hal ini tentu menjadi dasar nilai-nilai dan peran guru penggerak dalam menjalankan sistem pendidikan ke arah yang lebih baik, dimulai dari kelas.
Pandemi membukakan mata kita bahwa guru punya peran yang besar dalam proses belajar murid-muridnya, sekaligus menyingkapkan bahwa orangtua pun memeiliki peran yang tak kalah penting dalam proses pendidikan anak-anaknya. Hal itu membuat kita kembali percaya bahwa gotong-royong dalam pendidikan adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi.
Keterlaksanaan pembelajaran di masa pendemi merupakan tantangan tersendiri yang dihadapi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Konsep merdeka belajar yang telah dilakukan akan lebih maksimal bila dikolaborasikan dengan implementasi nilai-nilai dan peran guru penggerak. Implementasi nilai-nilai dan peran guru penggerak merupakan bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang menghadirkan pengalaman belajar bermakna bagi murid. Saat ini guru bukan menjadi sumber belajar utama karena banyak sekali sumber belajar lainnya juga dari lingkungan sekitar. Hal ini akan merangsang tumbuhnya kemandirian siswa dalam proses pembelajaran. Hal yang terkadang dihadapi adalah bagaimana mengkolaborasikan nilai-nilai dan peran guru penggerak agar bisa bersinergi dengan konsep merdeka belajar serta pengembangan potensi siswa yang mengikuti kodrat alam juga selaras dengan kodrat zamannya.
B. NILAI GURU PENGGERAK
C. PERAN GURU PENGGERAK
Dampak positif bagi murid jika peran sebagai guru penggerak dapat dilaksanakan dengan baik, yaitu :
Keterkaitan antara nilai dan peran Guru Penggerak dengan Filosofi Ki Hadjar Dewantara terlihat dari Implementasi nilai-nilai dan peran guru penggerak yang bertujuan untuk mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid. Tujuannya tentu saja untuk mengembangkan pendidikan ke arah yang lebih baik lagi dimulai dengan strategi dari kelas dimana guru menuntun untuk memberikan peran aktif murid dalam proses pembelajaran sehingga menghasilkan pembelajaran bermakna yang melibatkan pihak. Beberapa pihak yang terlibat dalam mencapai gambaran diri di demonstrasi kontekstual yaitu diantaranya Kepala Sekolah, rekan guru, siswa, warga sekolah yang saling bahu membahu mewujudkan ekosistem yang baik guna terwujudnya Visi sekolah berdasarkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara.