Selasa, 29 Juni 2021

Aksi Nyata - Budaya Positif

 

  • 1.4.a.10.2 Aksi Nyata - Forum Berbagi Aksi Nyata
  • Poster Budaya Positif

  • Proses menciptakan Budaya Positif bersama dengan kelompok CGP

A.     Latar Belakang

Tahun Ajaran baru adalah awal yang baik dan kesempatan yang tepat untuk meneruskan dan membangun kebiasaan baru yang belum pernah/sempat dilakukan sebagai bagian dari refleksi bersama pada tahun ajaran sebelumya. 

 

Budaya positif di sekolah menjadi tempat bagi guru, murid, serta seluruh warga sekolah untuk merasakan atmosfer positif yang membangun dan memperkuat karakter bagi sekolah tersebut agar selaras dengan visi sekolah.  

 

Salah satu contoh penerapan budaya positif yang bisa dikembangkan di sekolah adalah dengan pembuatan kesepakatan kelas oleh wali kelas, yang bertujuan untuk menumbuhkan tanggung jawab dan kepedulian siswa di kelas. Kesepakatan kelas adalah potret yang lebih mengedepankan peran aktif siswa sebagai subjek pendidikan, sehingga setiap pendapat siswa perlu dihargai. Melalui kesepakatan kelas, anak-anak sekaligus belajar tentang nilai-nilai demokrasi, serta pentingnya bertanggung jawab terhadap kesepakatan yang mereka buat sendiri sehingga kesepakatan yang dibuat dapat menampung aspirasi antarsiswa.

 

Kolaboratif antara siswa dan guru untuk saling bertukar ide positif dan membangun sebagai dasar landasan peraturan di kelas.  Konsekuensi yang ditimbulkan menjadi bagian kesepakatan yang harus diikuti.  Apabila kesepakatan ini dijalankan, maka budaya positif akan nampak nyata terlihat dalam diri siswa dan guru. Kesepakatan kelas yang efektif dapat membantu dalam pembentukan budaya disiplin positif di kelas. Hal ini juga dapat membantu proses belajar mengajar yang lebih mudah dan merdeka belajar.

 

B.      Deskripsi Aksi Nyata

Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyusun kesepakatan kelas adalah dengan cara menginformasikan di Group WhatsApp (WA) kelas dengan akan diadakannya kesepakatan kelas mengingat sekarang dalam kondisi pandemi Covid-19, sehingga untuk proses pembuatan kesepakatan kelas dengan menggunakan media Google Meet.  Setelah peserta didik diinformasikan dan diberi arahan mengenai tujuan dibuat kesepakatan kelas, mereka bergabung di Google Meet dan diberi kebebasan untuk berargumentasi menyampaikan pendapatnya akan apa yang akan menjadi kesepakatan kelas berdasarkan prinsip kesepakatan kelas, yaitu:

 

a.     Melibatkan semua pihak

Kelebihan dari kesepakatan adalah sifat kepemilikannya. Saat semua pihak terlibat, tanggung jawab didorong dari dalam diri. Pastikan siswa/anak memahami tujuan dibuatnya kesepakatan, yaitu panduan berperilaku baik dalam keseharian, baik di dunia online maupun offline.

b.     Memuat nilai yang dianggap penting

Pastikan siswa/anak paham bahwa dunia online dan dunia offline adalah dunia yang sama-sama memerlukan etika yang baik. Semua hal yang tidak pantas dilakukan di dunia offline juga tidak pantas dilakukan di dunia online.

c.     Dipahami oleh semua pihak

Pastikan semua pihak mendapatkan kesempatan untuk merespons dan berperan aktif dalam pembuatan kesepakatan. Hindari pembuatan kesepakatan sekadar untuk mendapatkan persetujuan.

d.     Singkat

Agar mudah diingat dan efektif dalam pelaksanaannya, kesepakatan dibuat singkat.

e.     Dibuat tertulis dan mudah diakses sewaktu-waktu

Letakkan di tempat yang mudah dilihat, seperti di dinding kelas, di depan pintu kamar, di folder media pada grup chat. Bantuan visual atau berupa poster dapat memudahkan untuk mengingat dan lebih menarik untuk dibaca.

f.     Memuat konsekuensi atas pelanggaran

Sebelum menentukan sebuah konsekuensi, lihat situasinya apakah pelanggaran tersebut memerlukan konsekuensi tambahan, seperti: penarikan gawai dari siswa/anak untuk sementara waktu. Hindari konsekuensi yang bersifat “hukuman”, misalnya: melibatkan fisik atau tidak menjaga harga diri siswa/anak. Hukuman tidak memberikan pengalaman belajar yang baik.

g.     Evaluasi berkala

Seiring tahap perkembangan anak dan perubahan situasi, diperlukan evaluasi atas kesepakatan. Karena adanya kebutuhan yang bertambah/berkurang, evaluasi atas kesepakatan pun secara berkala mutlak dilakukan. Hal ini penting disebutkan di awal saat membuat kesepakatan agar semua pihak dapat berperan aktif seiring berjalannya penerapan kesepakatan.

 

 

C.      Hasil Aksi Nyata

Hasil aksi nyata yang didapat adalah dengan adanya kesepakatan kelas yang telah disetujui oleh wali kelas dan peserta didik kelas VIII C SMP Xaverius 2 Bandar Lampung.

 

D.     Pembelajaran yang didapat

Pembelajaran yang didapat dengan membuat kesepakatan kelas adalah

1.   Saling menghargai saat teman menyampaikan argumentasi

2.   Saling mendukung dan menguatkan

3.   Terjalin komunikasi yang efektif

4.   Tercipta demokrasi di kelas

5.   Tercipta kesepakatan Bersama

 

E.      Rencana Perbaikan

Rencana perbaikan yang akan dilakukan berdasarkan situasi dan kondisi yang relevan saat ini, sehingga kesepakatan tersebut dapat direvisi sesuai kebutuhan.

 

F.      Dokumentasi proses dan hasil

      a.   Proses membuat kesepakatan kelas dengan menggunakan Google Meet


Berikut dokumentasi membuat kesepakatan kelas VIII C bersama peserta didik.



  • b.   Hasil kesepakatan kelas



  • SALAM CALON GURU PENGGERAK











Jumat, 11 Juni 2021

1.3.a.9. Koneksi Antar Materi - Visi Guru Penggerak

KONEKSI ANTAR MATERI - HENDRI NUGROHO - SMP XAVERIUS 2 BANDAR LAMPUNG






VISI : MANUSIA MUDA YANG UNGGUL DALAM HUMANITAS, KECERDASAN, KEJUJURAN, KEDISIPLINAN, dan PELAYANAN

Dalam modul visi guru penggerak tentang paradigma Inkuiri Apresiatif ini kita bisa menggali nilai-nilai positif baik untuk menerapkan visi sekolah yang berbasis pada kekuatan, budaya positif yang telah ada disekolah kemudian dikembangkan menjadi visi sekolah yang menuju kepada murid merdeka.

Inkuiri Apresiatif adalah sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis perubahan, sebagai salah satu model manajemen perubahan dan mencoba menerapkannya melalui tahapan dalam Inkuiri Apresiatif yang disebut dengan BAGJA (Buat Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana, Atur Eksekusi

Berbicara tentang kekuatan dan hal positif, paradigma Inkuiri Apresiatif juga sejalan dengan pernyataan Ki Hajar Dewantara bahwa anak anak hidup dan tumbuh sesuai dengan kodratnya sendiri baik kodrat alam maupun kodrat zaman.  Pendekatan paradigma Inkuiri Apresiatif sejatinya adalah menggali potensi setiap anak sesuai dengan kodratnya masing masing. Jadi paradigma ini bisa menjadi salah satu metode untuk mencapai visi yang sesuai dengan visi Ki Hajar Dewantara.

Melalui pendekatan Inkuiri Apresiatif dengan tahapan BAGJA maka peran penting guru dalam mewujudkan “murid merdeka” yaitu :

1.          Menerapkan pembelajaran yang berpihak pada murid

2.      Menggali potensi pada diri murid baik (bakat,minat,cara belajar dan lain-lain) dan lain lain sesuai dengan kodrat zaman (perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi zaman itu)

3.          Menciptakan suasana kelas yang menyenangkan dan bermakna

4.          Menumbuhkan motivasi intrinsik siswa 


Setelah mengetahui peran kita sebagai guru maka kita bisa mengambil langkah konkret dalam menerapkan pendekatan IA model BAGJA ini antara lain:

1.         Memahami kekuatan-kekuatan positif sekolah yang sudah ada

2.         Menyusun visi sekolah sesuai dengaan pendekatan Inkuiri Apresiatif

3.        Menginventarisir kendala yang muncul dan mencari solusi secara bersama sama dan mengedepankan musyawarah

4.    Bekerja sama dengan antar pemangku kepentingan, dan melakukan perannya masing-masing dengan baik

Dengan mengetahui kekuatan/ potensi diri, pentingnya pemetaan, dan komponen-komponen yang perlu ada maka kita dapat mencapai visi diri dan visi sekolah untuk mewujudkan perubahan budaya positif.


SALAM CALON GURU PENGGERAK

Kelas 9C